Minggu, 27 November 2011

KARBURATOR SEPERTI SEMPROTAN OBAT NYAMUK

Kinerja karbu kerap ditulis Em-Plus. Termasuk prinsip dasarnya. Tak salah, dong! Ypi, kalau salah sudah dipenjara sampeyan. Maksudnya, tak salah diulas berulang-ulang, hingga membekas di otak bro semua. Sebab, alat ini karburasi sederhana alias konvensional. Tidak elektrik atau otomatis menyemprot bensin ke silinder. Tapi memanfaatkan perbedaan tekanan atmosfer di ruang venturi.

Paling gampang, perhatikan semprotan obat nyamuk. Ketika gagang semprotan di tekan, terciptalah udara. Saking besarnya tekanan udara, dia menyedot cairan di tabung semprotan. Itu sama persis dengan karbrator. Sedotan udara tercipta dari piston. Lebih pastinya, saat piston menuju TMB (titik Matii Bawah). Ketika skep karburator terangkat akibat gas yang dipelintir, udara dari luar masuk lewat venturi karburator, Itu lho, bagian yang menyempit di lubang utama karbu.




Maksud dibuat venturi, supaya aliran udara fokus dan cepat. Sama dengan air yang mengalir di slang plastik. Bila slang ditekan (dicekik), aliran air bertambah cepat. Makin cepat aliran udara, tekanan di venturi menjadi renadh. Lebih kecil dibanding tekanan alam sekitar. Di pelajaran fisika diterangkan tekanan normal 1 atm (atmosfer). Nah, di venturi lebih rendah dari itu. Maka, mesti bensin di mangkuk karbu posisinya di bawah, bisa terhisap ke venturi lewat main-jet (gbr.1)

Lubang Venturi Mengecil di Tengah
Bukan mengada-ada. Monggo buka buku fisika SMU kelas 1 bab Fluida Bergerak. Dari situ dipelajari hukum atau asa Bernoulli. Katanya, makin besar kecepatan udara, semakin kecil tekanannya. Kecepatan udara di venturi maki kencang, mari dibuktikan. Moncong depan karburator Yamaha F1Z-R standar 40 mm. Kemudian menciut ke venturi jadi 22 mm (gbr.2). Kalau kecepatan udara di muka karbu 3 meter/detik, kecepatan di venturi berapa?

Silahkan bro buka kembali fisika kelas 2 bab Kontinuitas. Rumusnya:
V1 x A1 = V2 x A2
V1 = Kecepatan udara di moncong karbu (3 meter/detik)
A1 = Luas muka karbu (40 mm) = 1/4 x 3,14 x (40x40) = 1256 mm3
V2 = Kecepatan udara di venturi
A2 = Luas permukaan venturi dianggap bulat = 1/4 x 3,14 x (20x20) = 314 mm3

Maka kecepatan udara di vnturi :
V2 = (v1 x A1)/ A2 = V1 x (A1/A2) = 3 x (1256/314) = 12 meter/detik.

Berarti terbukti, kecepatan aliran udara di venturi tambah besar. mulanya 3 meter/detik menjadi 12 meter/ detik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar